Wednesday, October 23, 2019

Naskah Kuno "Takepan Rengganis"




Hum halo? Gimana kabar kalian semua hari ini? Aku harap baik ya. Kali ini, aku akan berbagi pengalaman yang super-duper seru selama kegiatan pencarian naskah kuno. Ada yang tau apa itu Takepan Rengganis? Isi dari takepan Rengganis? Nilai-nilai yang terkandung dalam takepan Rengganis? Gak tau? Eittss tenang, kalian semua tersesat di blog yang benar, selamat. Kok bisa? Emang apa istimewanya blog ini? Cuman blog biasa aja padahal. Eittts, ini blog bukan sembarang blog loh ya, karena di dalam blog ini kita akan mengupas tuntas sampai keakar (insyallah) tentang semua hal yang berkaitan dengan naskah kuno, termasuk ya tentang takepan Rengganis ini langsung dari informan terpercaya. Janji ya, jangan tutup tap google kalian, tetep disini loh ya ceritanya baru aja dimulai hehe.
Minggu, 20 Oktober 2019 pukul 08.00 pagi, menyusuri jalan raya berjam-jam (hingga tersesat dua kali), duduk di atas motor hingga ugh yah kalian tau pasti bagian tubuh mana yang paling tersiksa untuk itu. T—api, jangan berpikir bahwa aku tidak menyukai perjalanan ini hanya karena aku mengeluh. Aku sangat menikmatinya—sungguh, sampai rasanya ingin segera berakhir di atas ranjang yang empuk, saking lelahnya. TAPI BOHONG! Gak kok, aku benar-benar menikmati setiap momen yang kami lewatkan. Mulai dari momen paling menyenangkan sampai yang paling tidak menyenangkan sekalipun.
Oh ya, seperti yang udah aku jelasin di atas. Jadi, perjalanan panjang yang super-duper melelahkan sekaligus super-duper menyenangkan ini dalam rangka mencari naskah kuno. Iya naskah kuno, kalian gak salah baca kok. Daerah tujuan kami adalah Monte, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah. Kami bertemu salah seorang penggiat naskah kuno, bapak Lalu Pathul Ridwan namanya. Kami beruntung  karena bisa bertemu langsung dengan figur beliau yang ramah dan hangat. Ada banyak ilmu baru yang kami dapatkan ketika berguru kepada beliau selama kurang lebih 4 jam. Bayangin, berguru cuman 4 jam aja udah dapet ilmu sebanyak ini apalagi berguru selama setahun? Dua tahun? Tiga tahun?
Bapak Pathul ini merupakan penggiat naskah di desa Durian, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah. Beliau sudah jatuh cinta pada naskah kuno sejak usia muda tepatnya ketika beliau duduk di bangku kelas 3 SMA sekitar tahun 1985. Beliau sempat belajar tentang Tembang Macapat loh. Terus ditahun 1998 beliau mulai mencari dan mengoleksi naskah kuno sejak kurikulum muatan lokal mulai diperkenalkan. Salah satu naskah kuno miliknya yang masih dijaga dengan baik adalah takepan Rengganis. Adalah naskah kuno yang diukir menggunakan pemaje (pisau kecil) diatas daun lontar bertuliskan aksara jejawen sasak biasa disebut bahasa kawi. Takepan Rengganis ini usianya sekitar 70 tahun dan sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang pada tahun 1940-an.

Naskah Kuno: Takepan Rengganis

Takepan Rengganis atau lontar Rengganis punya arti yang cantik loh. Kata Reng berarti roh atau nyawa, sedangkan ganis berarti manis atau baik. Takepan Rengganis ini bercerita tentang kisah seorang Putri Rengganis yang cantik, kendatipun disaat detik-detik terakhir hidupnya, dia masih sempat-sempatnya berbuat baik. Pak Pathul juga menjelaskan bahwa secara umum nilai yang terkandung dalam naskah kuno berkaitan dengan nilai filosofis atau filsafat yang pada hakikatnya manusia mengabdikan diri pada kehidupan dunia dan akhirat dengan mengikuti perintah dan menjauhi larangan Tuhan.
Oh ya! Ini penting banget sih. Jadi ada cara khusus yang harus dilakuin sebelum membaca takepan Rengganis ini, yaitu daun lontarnya harus dipoles dengan air biasa. Tujuanya apa? Supaya tulisannya lebih jelas dan gampang buat di baca. Sekedar informasi tambahan dari bapak Pathul, di Lombok tengah, biasanya ada tuh komunitas Paguyuban Pemaos atau perkumpulan para pembaca naskah. Kata pak Pathul, biasanya komunitas pemaos itu paling banyak tersebar di daerah selatan, seperti daerah Pujut, Sengkol, Batujai, dan Penunjak. Oh iya, biasanya setiap dua bulan sekali, tepatnya pada minggu pertama dan ketiga ada semacam kegiatan pembacaan naskah kuno yang diselenggarakan di Bale Beleq, Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Sedangkan khusus di kecamatan Janapria, setiap bulan purnama biasanya masyarakat disana suka ngumpul bareng terus baca naskah bersama deh.

Pak Pathul ketika tengah memoles naskah kuno dengan air

Pak Pathul punya alasan sendiri loh kenapa suka banget sama yang namanya naskah kuno. Jadi, orang tua pak Pathul ini dulunya merupakan pembaca naskah kuno. Selain itu juga, menurut beliau dengan belajar bahasa sastra kuno bisa menjadi alat komunikasi ketika berbicara dengan para sesepuh. Pak Pathul memang sering bertukar pikiran dengan para sesepuh terkait naskah kuno dan gak jarang juga mereka saling bertukar naskah. Alasan lainnya adalah untuk melestarikan kekayaan leluhur dan kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir, berdasarkan pengalaman pribadi pak Pathul, membaca naskah kuno dapat membuat hati tenang.
Bukan berarti untuk menjaga keaslian dan keauntentikannya, naskah kuno tidak boleh dibersihin atau dirawat atau lebih parahnya gak pernah dibuka sama sekali! Berdasarkan penuturan pak Pathul, cara merawat naskah kuno itu adalah pertama, dengan meletakkannya pada tempat yang baik atau aman. Biasanya dibuatin semacam lemari kaca khusus gitu loh atau kalau di Lombok sendiri biasanya dibuatin semacam peti (gerobak) yang seukuran koper terus naskahnya ditaruh di dalam peti. Kedua, harus dibaca atau dibuka setiap hari supaya daun lontarnya tetap terlihat rapi. Kalo disimpan bertahun-tahun dan gak pernah dibuka kemungkinan untuk tulisannya pudar itu besar banget. Ketiga, dibersihin setiap hari dari debu-debu yang menempel yang buat naskahnya jadi kotor.
Kalian tau gak apa yang paling sedih? Kita udah sampe dibagian akhir cerita huhu. Di akhir perjumpaan kami dengan Pak Pathul, beliau menjelaskan arti penting naskah kuno bagi beliau dan masyarakat sekitar. Bagi beliau, naskah kuno itu tidak lain adalah sebuah sastra yang indah. Di dalamnya ada banyak sekali bahasa-bahasa indah yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari ditengah era globalisasi yang menyebabkan banyak terjadinya penyimpangan dalam menggunakan bahasa. Bagi masyarakat sekitar, naskah kuno itu penting untuk dipelajari dan dipahami maksudnya. Terkahir, pak Pathul mengungkapkan harapannya agar kedepannya akan ada lebih banyak lagi generasi-generasi muda yang mencintai keberadaan naskah kuno sebagai simbol atau cerminan jati diri bangsa Indonesia. 
Di setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. Rasanya berat untuk meninggalkan kediaman bapak Pathul. Tapi yah, kesibukan lain sudah menunggu dan memaksa kami untuk kembali ke peraduan awal huhu. Kami memutuskan untuk pulang setelah sholat ashar, sekitar pukul 16.00 WITA. Lagi-lagi kami bakalan melewati perjalanan panjang untuk yang kedua kalinya haha.
Gimana nih? Pengetahuan kalian udah nambah belum setelah baca blog ini? Pasti udah dong yah. Curhat dikit ya, setiap perjalanan panjang itu pasti ada banyak banget rintangannya, capek lah, datengnya telat lah, tersesat lah. Tapi kalian bisa ambil poin pentingnya, kebersamaan. Rasa capek, rasa jengkel itu bakalan hilang ketika kita udah melakukan sesuatu sama-sama. Kalo kata pepatah sih “bersusah-susah dahulu baru bersenang-senang kemudian” gak masalah tuh susah-susah dulu, yang penting akhirnya bahagia yeay. Buktinya, meskipun selama perjalanan kami menemukan banyak rintangan, tapi pengetahuan baru ada digenggaman kan? Terakhir nih, aku mau ucapin makasih buat kalian yang udah menyempatkan diri buat mampir di blog pertamaku ini, semoga isinya bermanfaat yah. Sampai ketemu di blog selanjutnya bayyy.

foto kami bersama bapak Pathul Ridwan