Hum halo? Gimana kabar kalian
semua hari ini? Aku harap baik ya. Kali ini, aku akan berbagi pengalaman yang
super-duper seru selama kegiatan pencarian naskah kuno. Ada yang tau apa itu Takepan Rengganis? Isi dari takepan Rengganis? Nilai-nilai yang terkandung
dalam takepan Rengganis? Gak tau? Eittss tenang, kalian semua tersesat
di blog yang benar, selamat. Kok bisa? Emang apa istimewanya blog ini?
Cuman blog biasa aja padahal. Eittts, ini blog bukan
sembarang blog loh ya, karena di dalam blog ini kita akan
mengupas tuntas sampai keakar (insyallah) tentang semua hal yang berkaitan dengan naskah
kuno, termasuk ya tentang takepan Rengganis ini langsung dari informan
terpercaya. Janji ya, jangan tutup tap google kalian, tetep disini loh
ya ceritanya baru aja dimulai hehe.
Minggu, 20 Oktober 2019 pukul 08.00 pagi, menyusuri jalan raya berjam-jam (hingga tersesat dua kali), duduk di
atas motor hingga ugh yah kalian tau pasti bagian tubuh mana yang paling
tersiksa untuk itu. T—api, jangan berpikir bahwa aku tidak menyukai perjalanan
ini hanya karena aku mengeluh. Aku sangat menikmatinya—sungguh, sampai rasanya
ingin segera berakhir di atas ranjang yang empuk, saking lelahnya. TAPI BOHONG!
Gak kok, aku benar-benar menikmati setiap momen yang kami lewatkan. Mulai dari
momen paling menyenangkan sampai yang paling tidak menyenangkan sekalipun.
Oh ya, seperti yang udah aku jelasin di atas. Jadi, perjalanan
panjang yang super-duper melelahkan sekaligus super-duper menyenangkan ini
dalam rangka mencari naskah kuno. Iya naskah kuno, kalian gak salah baca kok.
Daerah tujuan kami adalah Monte, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Lombok
Tengah. Kami bertemu salah seorang penggiat naskah kuno, bapak Lalu Pathul
Ridwan namanya. Kami beruntung karena
bisa bertemu langsung dengan figur beliau yang ramah dan hangat. Ada banyak
ilmu baru yang kami dapatkan ketika berguru kepada beliau selama kurang lebih 4 jam. Bayangin, berguru cuman 4 jam aja udah dapet ilmu sebanyak ini apalagi
berguru selama setahun? Dua tahun? Tiga tahun?
Bapak Pathul ini merupakan penggiat naskah di desa Durian, Kecamatan Janapria,
Lombok Tengah. Beliau sudah jatuh cinta pada naskah kuno sejak usia muda
tepatnya ketika beliau duduk di bangku kelas 3 SMA sekitar tahun 1985. Beliau
sempat belajar tentang Tembang Macapat loh. Terus ditahun 1998 beliau mulai
mencari dan mengoleksi naskah kuno sejak kurikulum muatan lokal mulai
diperkenalkan. Salah satu naskah kuno miliknya yang masih dijaga dengan baik adalah
takepan Rengganis. Adalah naskah kuno yang diukir menggunakan pemaje (pisau
kecil) diatas daun lontar bertuliskan aksara jejawen sasak biasa disebut bahasa kawi. Takepan Rengganis
ini usianya sekitar 70 tahun dan sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang pada
tahun 1940-an.
![]() |
| Naskah Kuno: Takepan Rengganis |
Takepan Rengganis atau lontar Rengganis punya arti yang cantik loh.
Kata Reng berarti roh atau nyawa, sedangkan ganis berarti manis atau
baik. Takepan Rengganis ini bercerita tentang kisah seorang Putri Rengganis
yang cantik, kendatipun disaat detik-detik terakhir hidupnya, dia masih
sempat-sempatnya berbuat baik. Pak Pathul juga menjelaskan bahwa secara umum
nilai yang terkandung dalam naskah kuno berkaitan dengan nilai filosofis atau
filsafat yang pada hakikatnya manusia mengabdikan diri pada kehidupan dunia dan
akhirat dengan mengikuti perintah dan menjauhi larangan Tuhan.
Oh ya! Ini penting banget sih. Jadi ada cara khusus yang harus
dilakuin sebelum membaca takepan Rengganis ini, yaitu daun lontarnya harus
dipoles dengan air biasa. Tujuanya apa? Supaya tulisannya lebih jelas dan
gampang buat di baca. Sekedar informasi tambahan dari bapak Pathul, di Lombok
tengah, biasanya ada tuh komunitas Paguyuban Pemaos atau perkumpulan para
pembaca naskah. Kata pak Pathul, biasanya komunitas pemaos itu paling banyak
tersebar di daerah selatan, seperti daerah Pujut, Sengkol, Batujai, dan Penunjak.
Oh iya, biasanya setiap dua bulan sekali, tepatnya pada minggu pertama dan
ketiga ada semacam kegiatan pembacaan naskah kuno yang diselenggarakan di Bale
Beleq, Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Sedangkan khusus di
kecamatan Janapria, setiap bulan purnama biasanya masyarakat disana suka ngumpul
bareng terus baca naskah bersama deh.
![]() |
| Pak Pathul ketika tengah memoles naskah kuno dengan air |
Pak Pathul punya alasan sendiri loh kenapa suka banget sama yang
namanya naskah kuno. Jadi, orang tua pak Pathul ini dulunya merupakan pembaca
naskah kuno. Selain itu juga, menurut beliau dengan belajar bahasa sastra kuno
bisa menjadi alat komunikasi ketika berbicara dengan para sesepuh. Pak Pathul
memang sering bertukar pikiran dengan para sesepuh terkait naskah kuno dan gak
jarang juga mereka saling bertukar naskah. Alasan lainnya adalah untuk
melestarikan kekayaan leluhur dan kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Terakhir, berdasarkan pengalaman pribadi pak Pathul, membaca
naskah kuno dapat membuat hati tenang.
Bukan berarti untuk menjaga keaslian dan keauntentikannya, naskah
kuno tidak boleh dibersihin atau dirawat atau lebih parahnya gak pernah dibuka
sama sekali! Berdasarkan penuturan pak Pathul, cara merawat naskah kuno itu
adalah pertama, dengan meletakkannya pada tempat yang baik atau aman. Biasanya
dibuatin semacam lemari kaca khusus gitu loh atau kalau di Lombok sendiri
biasanya dibuatin semacam peti (gerobak) yang seukuran koper terus naskahnya
ditaruh di dalam peti. Kedua, harus dibaca atau dibuka setiap hari supaya
daun lontarnya tetap terlihat rapi. Kalo disimpan bertahun-tahun dan gak pernah
dibuka kemungkinan untuk tulisannya pudar itu besar banget. Ketiga, dibersihin
setiap hari dari debu-debu yang menempel yang buat naskahnya jadi kotor.
Kalian tau gak apa yang paling sedih? Kita udah sampe dibagian
akhir cerita huhu. Di akhir perjumpaan kami dengan Pak Pathul, beliau
menjelaskan arti penting naskah kuno bagi beliau dan masyarakat sekitar. Bagi beliau,
naskah kuno itu tidak lain adalah sebuah sastra yang indah. Di dalamnya ada
banyak sekali bahasa-bahasa indah yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
ditengah era globalisasi yang menyebabkan banyak terjadinya penyimpangan dalam
menggunakan bahasa. Bagi masyarakat sekitar, naskah kuno itu penting untuk dipelajari
dan dipahami maksudnya. Terkahir, pak Pathul mengungkapkan harapannya agar kedepannya
akan ada lebih banyak lagi generasi-generasi muda yang mencintai keberadaan
naskah kuno sebagai simbol atau cerminan jati diri bangsa Indonesia.
Di setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. Rasanya berat untuk meninggalkan kediaman bapak Pathul. Tapi yah, kesibukan lain sudah menunggu dan memaksa kami untuk kembali ke peraduan awal huhu. Kami memutuskan untuk pulang setelah sholat ashar, sekitar pukul 16.00 WITA. Lagi-lagi kami bakalan melewati perjalanan panjang untuk yang kedua kalinya haha.
Gimana nih? Pengetahuan kalian udah nambah belum setelah baca blog
ini? Pasti udah dong yah. Curhat dikit ya, setiap perjalanan panjang itu pasti
ada banyak banget rintangannya, capek lah, datengnya telat lah, tersesat lah. Tapi
kalian bisa ambil poin pentingnya, kebersamaan. Rasa capek, rasa jengkel itu bakalan
hilang ketika kita udah melakukan sesuatu sama-sama. Kalo kata pepatah sih “bersusah-susah
dahulu baru bersenang-senang kemudian” gak masalah tuh susah-susah dulu, yang penting
akhirnya bahagia yeay. Buktinya, meskipun selama perjalanan kami
menemukan banyak rintangan, tapi pengetahuan baru ada digenggaman kan? Terakhir
nih, aku mau ucapin makasih buat kalian yang udah menyempatkan diri buat mampir
di blog pertamaku ini, semoga isinya bermanfaat yah. Sampai ketemu di blog
selanjutnya bayyy.
![]() |
| foto kami bersama bapak Pathul Ridwan |




������
ReplyDeleteWah menarik sekali .Terimakasih infonya :)
ReplyDeleteAkupun jatuh cinta sama yg buat ππ
ReplyDeleteKeren keren cha
OMG. Bahasanya ringan (seringan gula kapas) dan enjoy banget nih dibaca dari awal smpe akhir . TerinTerima infonya ππ€£
ReplyDeletePertama baca, sy langsung suka sama gaya bahasa yang kamu pakai. Bhsnya ringan dan seolah-olah kamu sedang berinteraksi sama pembaca. Semoga kedepannya kamu bisa menghasilkan blog yang baik lagi.
ReplyDeletePembahasan yg ada di blog ini menarik! Karna udh jarang banget ada yg mau bahas tentang naskah kuno. Penyampaian bahasanya juga ringan dan mudah di mengerti . cuma mungkin yg perlu di koreksi dikit typo dan penggunaan kata kata yg harus nyambung satu sama lain supaya pembaca enak , nyambung gitu bacanya , emm mungkin juga awal awalnya ga perlu banyak banyak cerita bisa cerita dikit tapi kalo yg ga perlu ga usah di ceritain biar langsung ke inti bacaannya . tapi overall udh baguss untuk sekelas blog baru! Semangat terus! Semoga blog nya semakin maju!
ReplyDeleteBhsanya kyk magnet bkin orang tertarik buat baca sampe abiss����
ReplyDeleteIsinya jg bagus dn bs nambah wawasan ttg sejarah
Smoga kedepannya lbh sukses ya cak❤
Asik dan menarik
ReplyDeleteDuhh,,bahasanya lugas banget, ringan, dan menarik buat dibaca
ReplyDeleteDuh, jiwanya kembali lagi. Keren banget, bahsanya gampang dipahami . Semoga kedepannya lebih baik lagi. Dan terimakasih infonya, ini sangat berguna untuk kita kaum muda agar tidak melupakan kebudayaan
ReplyDeleteBagus,nggk bakalan buat orang bosen dan jenuh bacanya klo kayak gini asssyyyiikkk
ReplyDeleteBagus,nggk bakalan buat orang bosen dan jenuh bacanya klo kayak gini asssyyyiikkk
ReplyDeleteBagus bangetππ
ReplyDeleteSangat bagus Blog anda, saya lebih banyak mengetahui informasi tentang Naskah2 kuno,saya menunggu Blog anda yang berikutnya π₯
ReplyDeleteOMG π
ReplyDelete