Hey hey hey /nyanyi haha/ izinkan aku untuk menyapa kalian semua wahai pembaca tercintaku, gimana nih kabar kalian hari ini? udah pasti baik-baik aja dong yah? Yang lagi sakit—mungkin semoga lekas sembuh. Hmm yah, kembali lagi di blog yang sangat luarrr biasa ini (perasaan kamu aja kali nis, blog-mu biasa aja padahal) oke abaikan. Di tulisan sebelumnya aku udah bahas tentang Takepan Rengganis dan antek-anteknya ya kan? Spesial buat kalian—kali ini aku bakalan berbagi pengalaman—lagi yang gak kalah menarik dan pastinya seru pake banget. Aku bakalan berbagi pengalaman selama prosesi ‘nyeput’ hingga dipenghujung tulisan ini aku bakalan berbagi sedikit tentang makna yang terkandung dari selembar naskah kuno yang udah aku pilih dari prosesi ‘nyeput’ tadi, terus dianalisis deh menggunakan pendekatan pragmatik. Penasaran? Pantengin aja blog ini sampe habis ya!
Sabtu, 09 November 2019, pukul 12.30 WITA. Dusun Bonjeruk,
Kecamatan Jonggat--itu daerah tujuan kami. Terletak di bagian tengah pulau Lombok--dusun
ini terkenal sebagai salah satu desa wisata sejarah yang memadukan keindahan
alam yang asri dan sejarah yang ada di daerah itu. Saat mengunjungi dusun Bonjeruk,
kami disambut hangat oleh salah seorang pengelola desa wisata Bonjeruk—bapak Usman.
Pak Usman kemudian memperkenalkan kepada kami tiga orang pemaos, yakni
bapak Hasan, Sahdin, dan Buhari—yang nantinya akan membantu kami dalam prosesi nyeput.
Oh ya! Hampir lupa, sebelumnya—tepatnya pada hari Jumat kami sempat bersemuka
dengan salah seorang dari tiga pemaos itu, bapak Hasan namanya.
Sebenarnya kami bertekad untuk melakukan prosesi nyeput pada hari itu
juga. Namun sayangnya, bapak Hasan tidak punya persiapan, jadi beliau meminta
kami untuk datang—lagi pada hari Sabtu setelah membuat janji.
Oh ya! Buat sekedar informasi tambahan tentang prosesi nyeput
ini. Jadi, nyeput sendiri dalam bahasa Indonesia berarti memegang. Di
desa Beber, orang-orang biasa menyebut istilah nyeput ini dengan beregem.
Istilah lainnya yang sering dipakai adalah meramal. Prosesi nyeput ini
biasanya dilakukan untuk meramal keadaan jiwa, kisah asmara, dan kehidupan
seseorang dan yah hmm paling banyak sih diminati oleh kaum perempuan haha.
Semua orang boleh melakukan prosesi nyeput ini. Ketika mau melakukan prosesi
nyeput, kita harus punya niat yang baik, kalo niat kita buruk, tau dong
yah apa yang bakalan terjadi? Biasanya juga, sebelum membuka takepan atau
naskah kuno sebagai barang utama yang mendampingi prosesi nyeput,
takepan itu harus di ukup dan dibakarkan kemenyan. Yang harus kalian perhatikan
adalah ramalan dari hasil nyeput itu tidak selamanya benar alias bisa
saja salah sasaran, jadi? Jangan terlalu berharap ya! Prosesi nyeput ini
banyak ditemukan di daerah Beber, biasanya sih setiap setahun sekali tepatnya
di bulan maulid. Tata cara pelaksanaan prosesi nyeput yang pertama
adalah memejamkan mata untuk memusatkan segala pikiran dan yang terpenting
adalah luruskan niat. Apapun hasilnya serahkan pada Tuhan, sebab kita tidak
bisa mendahului kehendak Tuhan.
Gak terasa loh ya, kita sudah sampai di bagian yang paling penting
dari blog ini. Penasaran dong yah, isi naskah dari hasil nyeput yang
udah aku dan teman-teman lakuin? Terus hmmm gimana kalo misalnya isi naskah itu
aku analisis dengan pendekatan pragmatik? Oke gak perlu nunggu lama-lama, ini
dia penjelasannya spesial pake telur buat kalian hahaha.
Pragmatik merupakan teori atau pendekatan
yang memandang bahwa karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan
tertentu kepada pembaca. Dengan pendekatan pragmatik, seseorang mampu memahami,
mengkaji, serta menganalisis isi, makna, atau maksud tersembunyi dibalik
penciptaan sebuah karya sastra untuk kemudian dijadikan sebagai sebuah pegangan
dalam mengarungi kehidupan. Pembaca
diberikan keluasan untuk menyimpulkan sendiri makna yang terkandung dalam
sebuah naskah kuno berdasarkan hasil bacaannya.
Teori pragmatik dapat diaplikasikan melalui
kegiatan analisis naskah-naskah kuno peninggalan masa lampau. Pada bagian ini, kita akan mencoba untuk menganalisis sebuah naskah kuno—bukan keseluruhan
isinya sih sebenernya—tapi selembar hihi. Naskah yang akan kita analisis
berjudul “Juarsah” secara keseluruhan, naskah ini bercerita tentang sosok
pemuda muda yang suka memerangi keburukan dan mengutamakan kebaikan.
Untuk mengetahui makna tersembunyi yang
terkandung dalam naskah kuno tersebut, kita perlu mengkaji menggunakan
pendekatan pragmatik. Prosesnya adalah dengan membaca dan memahami isi teks
tersebut, lalu kemudian melakukan analisis terhadap teks. Pengalihan bahasa
dari bahasa kawi ke dalam bahasa sasak biasa lalu ke bahasa Indonesia yang
telah dilakukan sebelumnya dapat dijadikan acuan untuk melanjutkan ke tahap
analisis naskah kuno “Juarsah” berdasarkan pendekatan pragmatik. Adapun petikan
bunyi dari naskah kuno yang sudah diterjemahkan (mohon maaf kalo ada salah
terjemahan hiks) adalah sebagai berikut ini.
![]() | |
| Gambar naskah kuno "Juarsah" hasil prosesi nyeput |
“Senugaq nane sak araq leq julun datu, nane
selapukn pade doang ntan ngaturan. Sebenerne, kaulu bale/punggawe baruk belakoq
mele milu ngiring datu, laguq selapukn ndek teijinan siq datu. Jari pengiring
selapukn paksa ndirik karne saking setie nelayan dampingin datu. Iye aran base
datu: ‘saya berangkat menghadap tipaq kakang, yakin ke tiang pade kangen tunah,
laguk nane, maraq ntan nane sak araq yaq pade jagaq. Ndot wah iniq. Mun
percayaq, yakin saq pade tinaq. Laguk enget araq saq mule tetep jagak. Serah
bae nane pade sak maha kuase.”
“Semua yang berada dihadapan datu
sebenarnya ingin ikut mendampinginya, tapi datu tidak mengijinkannya. Karena
kesetiaan mereka kepada datu, membuat mereka tetap ‘kekeuh’ ingin ikut
mendampingi datu. Lain halnya dengan datu yang tidak ingin didampingi ketika menghadap
pada sang kakak (datu sudah pasrah pada hidupnya). Seperti perkataan datu:
‘saya berangkat menghadap pada kakang. Saya tau kalian pasti akan rindu, tetapi
lebih baik kalian diam di tempat ini. Kalian harus percaya, sesungguhnya akan
ada sosok yang senantiasa tetap menjaga saya. Serahkan semua pada Tuhan yang Mahakuasa.”
Dari kutipan naskah yang telah
diterjemahkan di atas, kita dapat menemukan maksud, makna, atau isi yang
terkandung dalam naskah ‘Juarsah’, yakni berupa seruan atau ajakan agar
senantiasa membuang segala bentuk keragu-raguan di dalam jiwa. Apapun yang akan
kita lakukan—serahkan semuanya pada Tuhan yang Mahakuasa. Sebenarnya, naskah
dari hasil prosesi nyeput ini sangat menggambarkan karakter aku banget.
Datu disana diibaratkan aku, yang ketika menghadapi masalah kehidupan selalu
berbuat nekat—dalam artian selalu menyelesaikan masalah sendiri tanpa meminta
batuan orang lain. Bukan tanpa alasan—aku hanya tidak ingin memberi atau
menambah beban pada orang lain, sepertinya halnya sosok Datu yang tidak ingin
memberatkan para pengiringnya.
Panjang banget yah huhuhu. Aku harap kalian
gak akan bosen bacanya—toh manfaatnya buat kalian juga ya kan, lumayan buat
tambahan ilmu pengetahuan umum. Buat pembaca tercintaku, jangan pernah bosen
buat mengeksplor budaya ya! Karena tanpa kalian sadarin, ada banyak nilai
kehidupan yang bisa kalian ambil dari sana. Sampai ketemu di blog
selanjutnya, dahh.
![]() |
| Foto kami bersama bapak Hasan, Sahdin, dan Buhari |




MasyaAllah π
ReplyDeleteSemoga bermanfaat
ReplyDeleteentah knp aku selalu suka sama gaya penulisan kamu. Cara kamu memulai pengantar di awal paragraf selalu jadi ciri khas yg mungkin hanya kamu yg punya? Hahaha. Overall tulisan kamu gak pernah ngecewain sih, terus nulis ya, jgn stuck sampe disini syg loh bakat menulis kamu gk dikembangkan
ReplyDeleteDari Artikel Yang Pertama Sampai Yang Kedua Skarang Selalu menarik Dan Nggak Bosan Untuk Dibaca dan Penulisannyajuga Bagus, Ditunggu Artikel Berikutnya.
ReplyDeleteWow, ku tunggu-tunggu artikel ke dua. Akhirnya ada lagi, sangat menarik dari paragraf awal sampai akhir. Seperti ikt ke dlm suasana ceritanya. Kembangkan lg!!
ReplyDeleteKeren banget kak. Menarik, penulisannya juga bagus banget
ReplyDeleteBagus banget πππ
ReplyDeleteBagus bebkuh
ReplyDeleteRisna cantik
bagusπ
ReplyDeleteWow sangat artikelnya.. gaya oenulisan yg unik dn gk bkin bosen bacanyaππ❤
ReplyDeleteKata Yusuf 2313 November 2019 21.08
ReplyDeleteArtikel ini mengajarkan ku arti sebuah kenyamanan, keamanan, ketertiban, kemanusiaan, keteraturan, kerapian, kerajinan, kesopanan, kebersihan, keberanian, kekeliruan, keharmonisan, kesusilaan, kehausan, kelaparan, kemungkaran, kezoliman, keberpihakan, kecurangan, kepintaran, kebodohan, ketepatan, kelincahan, kegesitan, kekuatan, kemusyawaratan, kebablasan, kerinduan, kecintaan, kedinginan, kepanasan, kesiangan, ketindihan, ketiduran, kemasyarakatan, kejombloan, kepolosan, kelicikan, kekerabatan, kekeluargaan, keberlangsungan, kemaslahatan, kesehatan, kesakitan, ketekunan, kemanusiaan, keharuman, kebauan, kelemahan, kelebihan, kegagalan, keberhasilan, kepergian, keberangkatan, kegagapan, kecepatan, kelancaran, kemerosotan, kepercayaan, kesiapan, kesigapan, kebangkrutan, kesuksesan, kelonggaran, kecapekan, kelelahan, kecurigaan, kehalusan, kekerasan, keceriaan, kemurungan, kesedihan, keselamatan, kekonyolan, kelucuan, keseriusan, kebangkitqn, kehancuran, kesengsaraan, kedamaian, kemapanan, kegensutan, kelangsingan, kekecilan, kebesaran, keberadaan, keberagaman, kebohongan, kesurupan, kesemutan, keindahan, kejelakan, keterkaitan, keterikatan, kesewenang-wenangan, keteraturan, kecolongan, ketampanan, kesempurnaan cintaaaaa teh kotakk
Wkwkwkk π